PROFIL PEMERIKSAAN LABORATORIUM PASIEN DEMAM DENGUE DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH PERIODE JANUARI– DESEMBER 2015

PROFIL PEMERIKSAAN LABORATORIUM PASIEN DEMAM DENGUE

DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH

PERIODE JANUARI– DESEMBER 2015

1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Saat ini virus dengue merupakan salah satu penyebab masalah kesehatan di Indonesia. Pertama kali kasus demam dengue dilaporkan adalah tahun 1968 di Surabaya dan Jakarta. Selanjutnya kasus dengue terus menyebar ke berbagai daerah dan menjadi endemik di Indonesia. Pada tahun 1998 kasus demam dengue dilaporkan sudah menyebar di 27 provinsi baik di daerah perkotaan maupun pedesaan. Meskipun angka kematian terus menurun dari 41,3% pada tahun 1968 menjadi di bawah 3% pada tahun 2007.5

Pada umumnya diagnosis penyakit dengue sulit ditegakkan pada beberapa hari pertama sakit karena gejala yang muncul tidak spesifik dan sulit dibedakan dengan penyakit infeksi lainnya. Oleh karena itu, dalam penegakkan diagnosis penyakit dengue selain penilaian secara klinis dan hematologi rutin juga diperlukan pemeriksaan laboratorium. Saat ini pemeriksaan laboratorium untuk mendiagnosis virus dengue telah berkembang pesat sehingga sensitivitas dan spesifisitas menjadi lebih baik dengan waktu pemeriksaan yang lebih cepat. Pemeriksaan laboratorium tersebut antara lain adalah pemeriksaan virologi seperti isolasi virus, Reverse Transcription-Polymerase Chain Reaction (RT-PCR), antigen NS1, pemeriksaan serologi antibodi IgM, IgG, hemaglutinasi inhibisi (HI), dan netralisasi.6 Pemeriksaan penunjang hematologi rutin hingga saat ini masih merupakan pemeriksaan yang banyak digunakan oleh dokter karena biaya yang relatif murah dan dapat dilakukan di banyak institusi kesehatan.

Dengan Meningkatnya jumlah kejadian demam dengue dan semakin banyaknya pilihan pemerikasaan laboratorium yang bisa di pilih untuk menegakkan diagnosi. Sementara itu belum adanya publikasi mengenai data statistik profil memeriksaan laboratorium untuk menegagkan diagnosis Demam Dengue sehingga peneliti ingin melakukan penelitian di laboratorium Patologi Klinik Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:

Bagaimana Profil pemeriksaan laboratorium pasien demam dengue di Laboratorium Patologi Klinik Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Periode Januari – Desember 2015

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai melalui penelitian ini adalah:

1.3.1 Tujuan Umum

Mengetahui profil pemeriksaan laboratorium pasien demam dengue di laboratorium Patologi klinik rumah sakit umum pusat Sanglah periode Januari – Desember 2015

1.3.2 Tujuan Khusus

Mengetahui profil pemeriksaan laboratorium (hematologi, Imunoglobulin, Ag NS 1, Isolasi Virus ) pasien demam dengue di laboratorium patologi klinik rumah sakit umum pusat Sanglah periode Januari – Desember 2015.

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diperoleh dari penelitian ini :

1. Untuk memperoleh data tentang jenis pemeriksaan laboratorium pasien demam dengue di laboratorium patologi klinik rumah sakit umum pusat Sanglah periode Januari – Desember 2015.

2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan acuan bagi penelitian-penelitian selanjutnya.

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Demam Dengue

Demam Dengue adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot dan atau nyeri sendi yang diserti leukopenia, ruam, limfdenopti, trombositopenia dan diathesis hemoragik. Pada DBD terjadi perembesan plasma yang ditandai dengan hemokonsentrasi ( Peningkatan Hematokrit ) atau penumpukn cairan di rongga tubuh. Sindrom rejatana dengue ( Dengue Syok Sindrome ) adalah Demam berdarh dengue yang ditandai oleh rejatan/syok1.

2.2 Etiologi

Demam Dengue disebabkan oleh virus dengue, yang termasuk dlam genus Flavivirus, keluarga Flaviride. Flavivirus merupakan virus dengan diameter 30 nm terdiri dari asam ribonukleat rantai tunggal dengan berat molekul 4 x 106.1

Terdapat 4 serototipe virus yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4 yang semuanya dapat menyebabkan demam dengue atau demam berdarah dengue. Ke empat serotype ditemukan di Indonesia dengan DEN-3 merupakan serotype terbanyak. Terdapat reaksi silang antara serotipe dengan Flavivirus lain seperti Yellow fever , Javanese ecepaliti.1,2

Dalam Laboratorium virus dengue dapat bereplikasi pada hewan mamalia seperti tikus, Kelinci dan primata. Penelitian pada antropoda menunjukkn virus ini dapat bereplikasi pada nyamuk genus Aedes ( Stegomyia ) dan Toxorhynchites.1

2.3 Patogenesis dan Patofisiologi

Patogenesis deman dengue dan demam berdarah dengue masih belum jelas betul. berdasarkan berbagai data epidemiologi dianut 2 hipotesis yang sering dijadikan rujukan untuk menerangkannya. Kedua teori tersebut adalah the secondary heterotypic antibody dependent enchancement of a dengue virus infection yang lebih banyak dianut, dan gabungan efek jumlah virus, virulensi virus, dan respons imun inang.1

Virus dengue masuk kedalam tubuh inang kemudian mencapai sel target yaitu makrofag. Sebelum mencapai sel target maka respon immune non-spesifik dan spesifik tubuh akan berusaha menghalanginya. Aktivitas komplemen pada infeksi virus dengue diketahui meningkat seperti C3a dan C5a mediator-mediator ini menyebabkan terjadinya kenaikan permeabilitas kapiler dn celah endotel melebar. Akibat kejadian ini maka terjadi ekstravasasi cairan dari intravaskuler ke extravaskuler dan menyebabkan terjadinya tanda kebocoran plasma seperti hemokonsentrasi, hipoproteinemia, efusi pleura, asites, penebalan dinding vesica fellea dan syok hipovolemik.5 Kenaikan permeabilitas kapiler ini berimbas pada terjadinya hemokonsentrasi, tekanan nadi menurun dan tanda syok lainnya merupakan salah satu patofisiologi yang terjadi pada DBD. 5.

Gambar 1. Imunopatogenesis DBD (Hendarwanto,1996)

2.4 Gambaran Klinis

Gambaran klinis penderita dengue terdiri atas 3 fase yaitu fase febris, fase kritis dan fase pemulihan.5

Pada fase febris, Biasanya demam mendadak tinggi 2 – 7 hari, disertai muka kemerahan, eritema kulit, nyeri seluruh tubuh, mialgia, artralgia dan sakit kepala. Pada beberapa kasus ditemukan nyeri tenggorok, injeksi farings dan konjungtiva, anoreksia, mual dan muntah.Pada fase ini dapat pula ditemukan tanda perdarahan seperti ptekie, perdarahan mukosa, walaupun jarang dapat pula terjadi perdarahan pervaginam dan perdarahan gastrointestinal.

Fase kritis, terjadi pada hari 3 – 7 sakit dan ditandai dengan penurunan suhu tubuh disertai kenaikan permeabilitas kapiler dan timbulnya kebocoran plasma yang biasanya berlangsung selama 24 – 48 jam. Kebocoran plasma sering didahului oleh lekopeni progresif disertai penurunan hitung trombosit. Pada fase ini dapat terjadi syok.

Fase pemulihan, bila fase kritis terlewati maka terjadi pengembalian cairan dari ekstravaskuler ke intravaskuler secara perlahan pada 48 – 72 jam setelahnya. Keadaan umum penderita membaik, nafsu makan pulih kembali , hemodinamik stabil dan diuresis membaik.

Dengue Berat

Dengue berat harus dicurigai bila pada penderita dengue ditemukan5 :

  • 1.Bukti kebocoran plasma seperti hematokrit yang tinggi atau meningkat secara progresif, adanya efusi pleura atau asites, gangguan sirkulasi atau syok (takhikardi, ekstremitas yang dingin, waktu pengisian kapiler (capillary refill time) > 3 detik, nadi lemah atau tidak terdeteksi, tekanan nadi yang menyempit atau pada syok lanjut tidak terukurnya tekanan darah)
  • 2.Adanya perdarahan yang signifikan
  • 3.Gangguan kesadaran
  • 4.Gangguan gastrointestinal berat (muntah berkelanjutan, nyeri abdomen yang hebat atau bertambah, ikterik)
  • 5.Gangguan organ berat (gagal hati akut, gagal ginjal akut, ensefalopati/ensefalitis, kardiomiopati dan manifestasi tak lazim lainnya,

2.5 Pemeriksaan

Dalam menegaggkan diagnosis perlu dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang tetap berlaku pada penderita infeksi dengue. Riwayat penyakit yang harus digali adalah saat mulai demam/sakit, tipe demam, jumlah asupan per oral, adanya tanda bahaya, diare, kemungkinan adanya gangguan kesadaran, output urin, juga adanya orang lain di lingkungan kerja, rumah yang sakit serupa.2

Pemeriksaan fisik selain tanda vital, juga pastikan kesadaran penderita, status hidrasi, status hemodinamik sehingga tanda-tanda syok dapat dikenal lebih dini, adalah takipnea/pernafasan Kusmaul/efusi pleura, apakah ada hepatomegali/asites/kelainan abdomen lainnya, cari adanya ruam atau ptekie atau tanda perdarahan lainnya, bila tanda perdarahan spontan tidak ditemukan maka lakukan uji torniket.1 Sensitivitas uji torniket ini sebesar 30 % sedangkan spesifisitasnya mencapai 82 %.5

Pemeriksaan laboratorium yang perlu dilakukan adalah pemeriksaan hematokrit dan nilai hematokrit yang tinggi (sekitar 50 % atau lebih) menunjukkan adanya kebocoran plasma, selain itu hitung trombosit cenderung memberikan hasil yang rendah. Diagnosis konfirmatif diperoleh melalui pemeriksaan laboratorium, yaitu isolasi virus, deteksi antibodi dan deteksi antigen atau RNA virus. Imunoglobulin M (Ig M) biasanya dapat terdeteksi dalam darah mulai hari ke-5 onset demam, meningkat sampai mingguke-3 kemudian kadarnya menurun. Ig M masih dapat terdeteksi hingga hari ke-60 sampai hari ke-90. Pada infeksi primer, konsentrasi Ig M lebih tinggi dibandingkan pada infeksi sekunder. Pada infeksi primer, Imunoglobulin G (Ig G) dapat terdeteksi pada hari ke -14 dengan titer yang rendah (<1:640), sementara pada infeksi sekunder Ig G sudah dapat terdeteksi pada hari ke-2 dengan titer yang tinggi (> 1 :2560) dan dapat bertahan seumur hidup.5IK

Sekarang mulai dilakukan pemeriksaan Antigen protein NS-1 Dengue (Ag NS-l) diharapkan memberikan hasil yang lebih cepat dibandingkan pemeriksaan serologis lainnya karena antigen ini sudah dapat terdeteksi dalam darah pada hari pertama onset demam. Selain itu pengerjaannya cukup mudah, praktis dan tidak memerlukan waktu lama. Dengan adanya pemeriksaan Ag NS-l yang spesifik terdapat pada virus dengue ini diharapkan diagnosis infeksi dengue sudah dapat ditegakkan lebih dini. Penelitian Dussart dkk (2002) pada sampel darah penderita infeksi dengue di Guyana menunjukkan Ag NS-l dapat terdeteksi mulai hari ke-0 (onset demam) hingga hari ke-9 dalarn jumlah yang cukup tinggi. Pada penelitian ini didapatkan sensitivitas deteksi Ag NS -l sebesar 88,7% dan 91 % sedangkan spesifisitas mencapai 100%, dibandingkan terhadap pemeriksaan isolasi virus dan RT-PCR dengan kontrol sampel darah infeksi non-dengue20. Penelitian lainnya di Singapura pemeriksaan NS1- antigen secara Elisa memberikansensitivitas sampai 93,3 %.5

2.5 Diagnosis Demam Dengue

Berdasarkan panduan yang dikeluarkan World Heath Organization (WHO ) pada tahun 2009 demam dengan terbagi menjadi tiga bagian yakni

Deman Dengue Tanpa Tanda Bahaya apabila memenuhi kriteria tingal atau bepergian ke area endemis dengan demam ditambah dengan 2 tanda gejala berikut : nyeri kepala, malaise, myalgia, atralgia, nyeri retro orbita, anoreksia, nausea, muntah diare, Flushed Skin , ruam. Dan pemeriksaan laboratorium palig tidak darah perifer lengkap ( leukopenia dengan atau tanpa trombositopenia ), dan atau tes antigen dengan NS1 atau tes antibody dengue Ig M. Diagnosis pasti Isolasi kultur virus dan polymerase chain reaction ( PCR )

Demam Dengue dengan tanda bahaya Kriteria dengue tanpa tanda bahaya ditambah : nyeri atau nyeri tekan abdomen , muntah persisten, tanda klinis akumulasi cairan, pendarhan mukosa, letargi, lemah, pembesarahan hati dan laboartorium peningkatan hematocrit dan atau penurunan trombosit

Deman Dengue Berat memenuhi kriteria Demam dengue dengan atau tampa tanda bahaya ditambah dengan : Kebocoran plasma berat, pendarahan berat, dan gangguan organ berat.

2.6 Penatalaksanaan Demam Dengue

demam berdarah dengue bersifat simptomatik dan suportif yaitu pemberian cairan oral untuk mencegah dehidrasi. Apabila cairan oral tidak dapat diberikan oleh karena muntah atau nyeri perut yang berlebihan maka cairan intravenaperlu diberikan. Medikamentosa yang bersifat simptomatis. Untuk hiperpireksia dapat diberikan kompres es dikepala, ketiak, inguinal. Antipiretik sebaiknya dari asetaminofen, eukinin atau dipiron. Antibiotik diberikan jika ada infeksi sekunder. Cairan pengganti : Larutan fisiologis NaCl , Larutan Isotonis ringer laktat ,Ringer asetat , Glukosa 5%. 4

2.7 PROGNOSIS

Kematian akibat demam berdarah dengue cukup tinggi.1

3. KERANGKA KONSEP PENELITIAN

Gambar 4. Kerangka konsep penelitian

4. METODE PENELITIAN

4.1 Desain

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif dengan memaparkan data hasil pemeriksaan laboratorium yang diperoleh dari rekam medik penderita Deman Dengue bulan Januari - Desember 2015.

4.2 Tempat dan Waktu

Penelitian ini dilakukan di RSUP Sanglah Denpasar dan dilakukan dari bulan Januari - Desember 2015.

4.3 Populasi dan Sampel

Populasi target dari penelitian ini adalah semua pasien RSUP Sanglah yang memiliki keluhan demam atau riwayat demam akut antara hari ke 1 – 7..

Populasi terjangkau dari penelitian ini adalah semua pasien di RSUP Sanglah yang memiliki Demam atau riwayat demam akut antara hari ke 1 – 7 dan didapatkan dari hasil pemeriksaan adalah Demam Dengue . Cara sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan consecutive sampling.

4.4 Kriteria Inklusi dan Eksklusi

Kriteria inklusi adalah pasien dengan diagnosis Demam Dengue di RSUP Sanglah dalam rentang waktu Januari - Desember 2015

Kriteria eksklusi adalah data rekam medik yang tidak lengkap.

4.5 Besar Sampel

Penentuan besar sampel pada penelitian ini adalah berdasarkan lamanya waktu, yaitu jumlah penderita dengan diagnosis Demam Berdarah yang RSUP Sanglah sejak Januari - Desember 2015.

4.6 Cara Kerja

Data yang dikumpulkan diperoleh dari rekam medik pasien yang telah didiagnosa demam dengue di RSUP Sanglah. Data yang dikumpulkan tersebut dicari dari bulan Januari - Desember 2015. Dalam prosesnya dilakukan eksklusi data yang bukan merupakan subjek penelitian. Sementara data yang memenuhi kriteria inklusi diolah dan ditampilkan dalam bentuk tabel dan dideskripsikan.

4.7 Identifikasi Variabel

a. Demam Berdarah Dengue

b. Pemeriksaan Laboratorium

4.8 Definisi Operasional Variabel

a. Demam Berdarah adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue

b. Pemeriksaan Laboratorium merupakan suatu tindakan pemeriksaan penunjang ntuk mengetahui terjangkitnya virus Dengue.

4.9 Cara dan Alat Pengambilan Data

Data didapat dari rekam medik Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah.

4.10 Analisis Data

Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel dan dideskripsikan. Data yang diperoleh dianalisis secara statistik untuk menilai persentase Demam Berdarah berdasarkan jenis pemeriksaan laboratorium Hematologi, Imunoglobulin, Antigen NS 1 dan Okulasi Virus yang diambil dari data Rekam Medik di RSUP Sanglah.

DAFTAR PUSTAKA

  • 1.Alwi Idrus, Dkk. 2014 . Buku Ajar Ilmu Penykit Dalam Edisi VI . Jakarta. Internal Publishing Pusat Penerbit Ilmu Penyakit Dalam : a
  • 2.Bruwald, Dkk. 2002. Harrison Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit Dalam Edisi 13 Volume 2. Jakarta : EGC : c
  • 3.Hendarwanto.1996.Demam Dengue. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : FK UI/RSCM f
  • 4.Soemanto Atik, Dkk. 2014. Kapita Selekta Kedokteran Edisi IV Volume II. Jakarta : Media Aesculpius : d
  • 5.Sudjna Primal. 2010 . Diagnosis Dini Penderita Demam Berdarah Dengue Dewasa. Buletin Jendela Epidemiologi, Volume 2. Available At : http://www.kemkes.go.id/resources/download/pusdatin/buletin/buletin-dbd.pdf Accessed 10 April 2016 : e
  • 6.Suwandono Agus, Dkk. 2011. Perbandingan Nilai Diagnostik Trombosit, Leukosit, Antigen NS1 dan Antibodi IgM Antidengue. J Indon Med Assoc, Volum: 61. VI Nomor 8 . Available At
  • :http://indonesia.digitaljournals.org/index.php/idn.... Accessed 10 April 2016 :
  • PROPOSAL USULAN PENELITIAN PROFIL PEMERIKSAAN LABORATORIUM PASIEN DEMAM DENGUE DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH PERIODE JANUARI– DESEMBER 2015
    Nama : dr. I Putu Wirama, Sked DENPASAR 2016



 

Newsletter

Jadilah orang pertama yang mendapatkan info produk terbaru, dan promo dari kami.

Daftarkan email anda dan dapatkan segera promo menarik.

 

Testimonial

Memang Melayani Kebutuhan

 
Kusuma